Sunday, 1 May 2011

Laporan Praktikum Hewan Invertebrata

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI UMUM 1

“HEWAN INVERTEBRATA”





Oleh

                                      Nama                                     : Putri Iga Untari
                                      NIM                                      : 08101004050
                                      Kelompok                             : IX (Sembilan)
                                      Asisten                                  : Henny Silviani





LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Penggolongan hewan terutama didasarkan pada kesamaan-kesamaan struktur dan fisiologisnya. Dalam hubungan ini, ada empat criteria yaitu pola simetri tubuh dan bentuk tubuh, rongga tubuh, perbedaan perkembangan embrio, dan aspek tertentu yang dianggap penting sebagai aspek pembeda. Kingdom animalia dibagi menjadi dua sub kingdom, yaitu Parazoa, hewan yang belum mempunyai jaringan dan Eumetazoa, yaitu hewan yang sudah memiliki jaringan (Setiawan 2010: 51).
Secara embriologi, hewan ada yang memiliki dua lapisan kulit, hewan demikian dinamakan diploblastik. Untuk hewan yang memiliki tiga lapisan kulit dalam tubuhnya dinamakan triploblastik. Struktur tubuh, dan sistem sistem yang ada pada hewan invertebrata berbeda beda, makin tinggi tingkatannya semakin kompleks struktur dan sistem tubuhnya. Semua hewan yang tidak memiliki tulang belakang dikelompokkan dalam Invertebrata (avertebrata). Hewan invertebrata ada yang tersusun oleh satu sel (uniselluler) dimana seluruh aktivitas kehidupannya dilakukan oleh sel itu sendiri(Anonim 2010: 1).
Hewan vertebrata tersusun oleh banyak sel (multiseluler). Sel-selnya sering mengalami diferensiasi dan spesialisasi membentuk jaringan dan organ tubuh dan aktivitasnya semakin kompleks. Perkembangan embrio hewan metazoan melalui tahap-tahap tertentu. Secara embriologi, hewan ada yang memiliki dua lapisan kulit, hewan demikian dinamakan diplobastik. Untuk hewan yang memiliki tiga lapisan kulit dalam tubuhnya dinamakan tripoblastik. Struktur tubuh dan sistem-sistem yang ada pada hewan invertebrate berbeda-beda, makin tinggi tingakatannya, maka semakin kompleks struktur dan sistem tubuhnya. Hewan vertebrata merupakan hewan yang memiliki sistem tubuh dan jaringan yang kompleks dibandingkan dengan hewan invertebrata (Setiawan 2010: 51).
Hewan vertebrata yaitu hewan yang bertulang belakang atau punggung. Memiliki struktur tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan Invertebrata. Hewan vertebrata memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Tali ini tidak di memiliki oleh yang tidak bertulang punggung. Dalam memenuhi kebutuhannya, hewan vertebrata telah memiliki system kerja sempurna peredaran darah berpusat organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya (Anonim 2009: 1).
Ciri-ciri tubuh hewan yang bertulang belakang adalah mempunyai tulang yang terentang dari balakang kepala sampai bagian ekor, mempunyai otak yang dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak, tubuhnya berbentuk simetris bilateral, mempunyai kepala, leher, badan dan ekor walaupun ekor dan leher tidak mutlak ada contohnya pada katak. Ciri alat tubuh hewan yang bertulang belakang sebagai adalah mempunyai kelenjar bundar, endoksin yang menghasilkan hormon untuk pengendalian, pertumbuhan, dan proses fisiologis atau faal tubuh, kemudian susunan saraf terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang, bersuhu tubuh panas dan tetap (homoiternal) dan bersuhu tubuh dingin sesuai dengan kondisi lingkungan atau poikiloternal (Prawirohartono 2006: 98).
Hewan Invertebrata adalah yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan invertebrata. Berdasarkan bentuk tubuh, dibagi menjadi simetri radial dan simetri bilateral tubuh Eumetazoa memiliki lapisan embrional. Hewan dengan simetri radial memiliki tubuh dorsal (atas), ventral atau bagian bawah (Anonim 2010: 2).
Filum-filum yang terdapat pada kelas invertebrata ada banyak, seperti porofera, coelenterata, platyhelminthes, nemathelminthes, annelida, mollusca, arthopoda, dan echinodermata. Masing-masing dari flum tersebut mempunyai struktur tubuh dan fungsi yang berbeda-beda. Semua hewan dalam filum tersebut tidak mempunyai tulang belakang atau biasa disebut notochord,  Lapisan dalam, tersusun atas sel sel berbentuk (Prawirohartono 2006: 98).

1.1  Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui beberapa contoh jenis hewan yang termasuk kedalam hewan invertebrata dan ciri-ciri bagian dari tubuh hewan invertebrata.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu filum dari hewan invertebrata adalah porifera. Porifera merupakan hewan yang berlubang-lubang (berpori), hidup di air tawar, di rawa, di laut yang dangkal, dan di air jernih dan tenang. Tubuhnya tersusun dari jaringan  diploblastik atau dengan dua lapisan jaringan. Lapisan luar terdiri dari lapisan epidermis dan lapisan dalam terdiri dari sel-sel leher atau sel koanosit. Bentuk tubuhnya meyerupai vas bunga, memiliki rongga tubuh (spongosol) dan lubang keluar (oskulum), tubuhnya lunak dengan permukaan berpori (ostium). Porifera menguntungkan manusia karena sponsnya dapat digunakan untuk alat gosok tubuh. Tubuh porifera yang mati juga dapat digunakan sebagai hiasan (Setiawan 2010: 51-52).
Porifera merupakan hewan air dan hidup di laut bentuk tubuh seperti tumbuhan yang melekat pada suatu dasar laut, jadi porifera dapat berpindah tempat dengan bebas, tubuh porifera seperti tabung yang memiliki banyak pori (lubang kecil pada sisinya dan mempunyai rongga di bagian dalam) porifera dapat berkembang biak dengan cara generatif dan vegetative (Anonim 2010: 4).
Walaupun spons diklasifikasikan sebagai hewan mulitiseluler, integrasi dan spesialisasi fungsi spons tidak sebaik kelompok-kelompok hewan lain. Spons tidak memiliki organisasi jaringan, dan sel-selnya adalah unit primer stuktur dan fungsi. Tubuhnya berlapis dua, epidermis disebelah luar dan lembaran sebelah dalam yang terutama tersusun atas koanosit. Sebuah kompartemen bergelatin, mesohil, memisahkan kedua lapisan tersebut. Terdiri dari zat kapur (spikula) dan hidup di laut yang dangkal. tubuh porifera seperti tabung yang memiliki banyak pori. Lapisan dalam, tersusun atas sel sel berbentuk corong dan memiliki flagel. Sel ini dinamakan koanosit  (Fried & Hademenos 2009: 344).  
Coelenterata berasal dari kata coilos (berongga) dan entron (usus) coelentrata mempunyai dua macam bentuk yakni bentuk pasif yang menempel pada suatu     dasar dan tidak berpindah. Coelenterata merupakan hewan yang memiliki rongga. Termasuk hewan triploblastik, tubuh simetri radial. Lapisan senyawa   selnya terdiri dari ektoderm dan endoderm. Antara ektoderm dal endoderm    terdapat mesoglea. Pada tubuh bagian atas terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel. Pada permukaan tentakel terdapat knidoblas atau sel penyengat atau nematokist.  Hidup di air tawar ataupun d air laut. Tubuhnya pun dapat melekat pada dasar perairan. Dan mempunyai dua bentuk, polip dan medusa  (Setiawan 2010: 52).
Cnidaria atau Coelenterata mempunyai dua lapisan sel, simetri radial dan rongga gastrovaskular (coelenteron). Coelenterata berasal dari bahasa Yunani, yaitu coelenteron yang artinya rongga. Jadi, Coelenterata adalah hewan invertebrata yang memiliki rongga tubuh. Rongga tersebut digunakan sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler) . Namun filum Coelenterara lebih dikenal dengan nama Cnidaria. Kata Cnidaria berasal dari bahasa Yunani, cnido yang berarti penyengat karena sesuai dengan cirinya yang memiliki sel penyengat. Sel penyengat tersebut terletak pada tentakel yang terdapat di sekitar mulutnya (Fried & Hademenos 2009: 345).
Coelentera hidup secara heterotrof dengan memangsa plankton dan hewan kecil lainnya yang berada di air. Coelenterata lumpuhkan mangsanya dengan menggunakan tentakelnya yang memiliki sel knidosit. Setelah mangsanya itu lumpuh, tentakel menggulung dan membawa mangsa ke mulut.
Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik itu air laut ataupun air tawar. Sebagian besar hidup berkoloni atau soliter. Coelenterata yang berbentuk polip hidup soliter atau berkoloni di dasar air. Polip tidak dapat berpindah tempat. Sedangkan coelenterata yang berbentuk medusa dapat melayang bebas di dalam air        (Anonim 2010: 4).
Platyhelminthes berasal dari bahasa yunani, Platy=Pipih dan Helminthes=cacing. Oleh sebab itulah filum platyhelminthes sering disebut Cacing Pipih. Platyhelminthes adalah filum ketiga dari kingdom animalia setelah porifera dan coelenterata. Platyhelminthes adalah hewan triploblastik yang paling sederhana. Cacing ini bisa hidup bebas dan bisa hidup parasit. Yang merugikan adalah platyhelminthes yang hidup dengan cara parasit. Tubuh Platyhelminthes          simetri bilateral yang berbentuk pipih. Ukuran platyhelmintes sangat beragam, mulai dari yang hampir mikroskopis sampai yang panjangnya 20 meter                                 (Fried & Hademenos 2009: 347).
Platyhelminthes merupakan hewan triplobastik yang paling sederhana, tetapi kompleksitasnya berada pada tingkat organ, dibandingakan dengan yang lainnya yang masih dalam tingkat jaringan. Asal-usul nenek moyang platyhelminthes belum diketahui jelas. Filum Platyhelminthes adalah hewan triploblastik yang terdiri dari ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Platyhelminthes tidak memiliki rongga tubuh (selom), jadi mereka disbut hewan aselomata. Sistem pencernaan pada Platyhelminthes terdiri dari mulut, faring dan usus. Usus tersebar ke seluruh tubuh. Karena Platyhelminthes tidak memiliki anus, maka sistem pencernaan Platyhelminthes disebut juga sistem pencernaan satu lubang (Anonim 2010: 3).
Nemathelminthes (dalam bahasa yunani, nema=benang, helminthes=cacing) disebut sebagai cacing gilig karan tubuhnya berbentuk bulat panjang atau seperti benang. Berbeda dengan Platyhelminthes yang belum memiliki rongga tubuh, Nemathelminthes sudah memiliki rongga tubuh meskipun bukan rongga tubuh sejati. Oleh karena memiliki rongga tubuh semu, Nemathelminthes disebut sebagai hewan Pseudoselomata. Ciri tubuh Nemathelminthes meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Ukuran tubuh Nemathelminthes umunya mikroskopis, meskipun ada yang panjang nya sampai 1 meter. Individu betina berukuran lebih besar daripada individu jantan. Tubuh berbentuk bulat panjang atau seperti benang dengan ujung-ujung yang meruncing (Prawirohartono 2006: 98).
Nemathelminthes hidup bebas atau parasit pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Nemathelminthes yang hidup bebas berperan sebagai pengurai sampah organik, sedangkan yang parasit memperoleh makanan berupa sari makanan dan darah dari tubuh inangnya. Habitat cacing ini berada di tanah becek dan di dasar perairan tawar atau laut. Nemathelminthes parasit hidup dalam inangnya. Nemathelminthes dibagi menjadi dua kelas, yaitu Nematoda dan Nematophora. Pada uraian berikut akan dibahas beberapa spesies dari nematoda yang merupakan parasit bagi manusia (Fried & Hademenos 2009: 345).
Oxyuris vermicularis atau sering disebut cacing kremi adalah salah satu hewan dari kelas nematoda filum Nemathelminthes. Oxyuris vermicularis disebut cacing kremi karena ukurannya sangat kecil. Cacing kremi hidup di dalam usus besar manusia. Oxyuris vemicularis tidak menimbulkan penyakit yang berbahaya, namun cacing kremi ini cukup mengganggu. Cacing kremi ini dapat menimbulkan rasa gatal yang teramat sangat di bagian anus. Infeksi cacing kremi tidak membutuhkan perantara. Cacing kremi dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang telah terkontaminasi telur cacing. Pengulangan daur infeksi cacing kremi pada umumnya secara autoinfeksi, artinya dilakukan oleh penderita sendiri. (Anonim 2010: 6).
Mollusca (dalam bahasa latin, molluscus=lunak) merupakan hewan yang bertubuh lunak. Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang. Hewan ini tergolong triploblastik selomata. Ciri tubuh Mollusca meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Ukuran dan bentuk mollusca sangat bervariasi. Misalnya siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan bentuk bulat telur. Namun ada yang dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya lebih dari 18 m seperti cum-cumi raksasa. Habitatnya di air tawar, di laut dan didarat. Beberapa juga ada yang hidup sebagai parasit                           (Fried & Hedemenos 2009: 346).
Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku. Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk simbiosis dan parasit. Hampir dari 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda (Anonim 2010: 5).


















BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
 Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 11 November 2010, pukul 13.00-15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah alkohol 96%, botol selai, cawan petri, formalin 40%, gunting, gelas ukur, jarum pentul, kaca pembesar, kaca objek, kaca penutup, mikroskop stereo, dan mikroskop biologi. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Asteroida sp, Loligo indica, Panaeus monodon, Periplaneta americana, Pheretima sp, dan Valanga sp.

3.3 Cara Kerja
3.3.1 Pengamatan pada Annelida.
Mengamati bentuk morfologinya dari jenis yang didapatkan, yaitu Pheretima sp, amati dengan mata telanjang atau menggunakan lup atau kaca pembesar. Mengamati masing-masing anggota tubuhnya dan menggambarkan hasil yang didapat.

3.3.2 Pengamatan pada Mollusca.
Mengamati bentuk morfologinya dari jenis yang didapatkan, yaitu Loligo indica, amati dengan mata telanjang atau menggunakan lup atau kaca       pembesar. Menetukan arah dorsal, arah anterior, dan arah posterior dan menentukan klasifikasi hewan ini.  Mengamati masing-masing anggota tubuhnya dan menggambarkan hasil yang didapat.


3.3.3 Pengamatan pada Crustacea.
Mengambil contoh crustacean yaitu Panaeus monodon, mengamati bentuk struktur dan morfologinya dimulai dari bagian depan, yaitu bagian kepala yang bersatu dengan dada dan terdiri dari beberapa bagian anggota bagian dan memberikan keterangannya. Mengamati tubuh segmen dan abdomen pada udang. Mengamati dan menggambarkan hasilnya.

3.3.3 Pengamatan pada Insecta.
Mencari beberapa contoh jenis hewan yang mewakili kelas ini seperti Valanga sp, dan Periplaneta americana. Melakukan pembiusan dengan cara kloroform. Kemudian mengamati bentuk dan struktur tubuh dari jenis yang diamati dan menggambar dan member keterangan bagian-bagian yang didapat. 





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
A. Gambar Panaeus monodon
Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Classs              : Crustacea
Ordo                : Decapoda
Famili              : Penaidae
Genus              : Panaeus
Spesies            : Panaeus monodon
Nama Umum   : Udang

Keterangan
1.      Kulit
2.      Ruas-ruas
3.      Mandibula
4.      Scophocerit
5.      Antenna
6.      Maxilla
7.      Chela
8.      Periopoda










B. Gambar Loligo indica
Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Mollusca
Classs              : Chepalopoda
Ordo                : Decapoda
Famili              : Loligonidae
Genus              : Loligo
Spesies            : Loligo indica
Nama Umum   : Cumi-cumi

Keterangan
1.      Tentakel
2.      Mantel
3.      Kepala chepalox
4.      Mata
5.      Sifon






















C. Gambar Asterias sp
Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Echinodermata
Classs              : Asteroidea
Ordo                : Forsipulatida
Famili              : Asteriidae
Genus              : Asterias
Spesies            : Asterias sp
Nama Umum   : Bintang laut

Keterangan
1.      Mulut
2.      Saluran cincin
3.      Kaki tabung
4.      Anus
5.      Ampula
6.      Saluran radial
7.      Madreporite



















D. Gambar Valanga sp
Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Classs              : Insecta
Ordo                : Montodeae
Famili              : Montodea
Genus              : Valanga
Spesies            : Valanga sp
Nama Umum   : Belalang

Keterangan
1.      Antenna
2.      Ocellus
3.      Cervix
4.      Cervical sclerite
5.      Forewing
6.      Kaki
7.      Sternite
8.      Circus

















E. Gambar Periplaneta americana
Klasifikasi
Kingdom          : Animalia
Filum                : Arthropoda
Classs                : Gastropoda
Ordo                 : Blattodea
Famili                : Blattellidae
Genus               : Periplaneta
Spesies              : Periplaneta americana
Nama Umum    : Kecoa

Keterangan
1.      Antena
2.      Kepala chepalox
3.      Kaki
4.      Bulu-bulu halus
5.      Punggung






















F. Gambar Pheretima sp
Klasifikasi
Kingdom          : Animalia
Filum                : Annelida
Classs                : Oligochaeta
Ordo                 : Ophistopora
Famili                : Megascolicidae
Genus               : Pheretima
Spesies              : Pheretima sp
Nama Umum    : Cacing tanah

Keterangan
1.      Prostomium
2.      Seminal receptacle
3.      Clitellum
4.      Setae
5.      Anus






















4.2  Pembahasan
Dari paraktikum yang telah dilakukan, maka didapatkan bahwa bentuk morfologi dari hewan invertebrata yang salah satunya adalah udang adalah bahwa udang memiliki kulit di bagian luar tubuh hewan tersebut. Hal ini didukung dengan pernyataan Anonim (2010: 2) bahwa seluruh tubuh udang tertutup oleh kerangka luar yang terbuat dari zat kitin. Kerangka luar tersebut mengeras, kecuali pada sambungan-sambungan antara ruas, sehingga memudahkan untuk bergerak dan berenang didalam air. Secara garis besar, tubuh udang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu chepalotorax, yang menghubungkan kepala dan dada.
Udang merupakan hewan invertebrata dari filum arthropoda dan menempati kelas crustacea. Menurut pendapat Fried & Hademenos (2009: 344), tubuh udang bersegmen, alat gerak bersegmen, rangka luar berupa kutikula. Hidup didarat, air tawar, air laut, menempel pada hewan piaraan. Seluruh tubuh udang windu tertutup oleh kerangka luar yang terbuat dari zat kitin.
Kerangka luar tersebut mengeras, kecuali pada sambungan-sambungan antara
ruas, sehingga memudahkan untuk bergerak. Kata ”kitin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu ”chiton”, yang berarti baju rantai besi. Kata ini menggambarkan fungsi dari material kitin sebagai jaket pelindung pada invertebrata.
Secara garis besar, tubuh udang dapat dibagi atas dua bagian utama, yaitu bagian kepala yang menyatu dengan dada (cephalothorax), dan bagian tubuh sampai ke ekor (abdomen). Menurut Anonim (2010: 3), bagian kepala ditutupi sebuah kelopak kepala (Cerapace) yang di bagian ujungnya meruncing dan bergigi yang disebut dengan cucuk kepala (rostrum). Pada udang windu, gigi rostrum bagian atas biasanya tujuh buah dan bagian bawah tiga buah (rumusnya 7/3). Sedangkan rumus untuk udang putih biasanya 8/5. Semua tubuh terbagi atas ruas-ruas yang ditutupi oleh kerangka luar yang mengeras, terbuat dari Chitin. Di bagian kepala terdapat 13 ruas dan di bagian perut 6 ruas.
Berbeda lagi dengan Loligo indica atau cumi-cumi, udang mempunyai kerangka luar dengan bahan kitin yang dapat mengeras, sedangkan cumi-cumi mempunyai kulit yang lembut dan sedikit berlendir. Cumi-cumi merupakan hewan dari filum mollusca. Mollusca biasa disebut dengan hewan lunak. Menurut Prawirohartono (2006: 101), hewan dari filum mollusca bertubuh lunak, tidak beruas-ruas, simetri bilateral, memiliki lapisan mantel yang berfungsi memproduksi zat kapur sebagai bahan cangkang, memiliki cangkang atau tidak. Cangkang terbuat dari zat kapur, terletak diluar tubuh, ada juga yang didalam tubuh.
Bintang laut atau Asterias sp mempunyai tekstur tubuh yang kasar. Kulitnya tidak rata dan mempunyai gerigi-gerigi kecil. Ini disebabkan karena kulitnya mempunyai lempeng-lempeng zat kapur dengan duri-duri kecil. Menurut Anonim (2010: 4), echinodermata berasal dari kata Yunani, echinos artinya duri dan derma artinya kulit. Jadi, echinodermata dapat diartikan sebagai hewan berkulit duri. Hewan ini biasanya hidup di pantai dan di dalam laut sampai kedalaman sekitar    366 m. Sebagian hidup bebas, hanya gerakannya lamban. Apabila hewan ini akan bergerak ke sebelah kanan, maka kaki tabung sebelah kanan akan memegang benda di bawahnya dan kaki lainnya akan bebas. Selanjutnya ampula mengembang kembali dan air akan bergerak berlawanan dengan arah masuk.
Keistimewaan echinodermata adalah memiliki tubuh (organ tubuh) lima atau  kelipatannya. Di samping itu hewan ini memiliki saluran air yang sering disebut sistem  ambulakral. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh Fried & Hademenos (2009: 346), sistem ini digunakan untuk bergerak, bernafas, atau untuk membuka mangsanya yang memiliki cangkok. Ciri umum lainnya adalah pada waktu masih larva tubuhnya berbentuk bilateral simetri. Sedangkan setelah dewasa bentuk tubuhnya menjadi radial simetri. Mulutnya ada di permukaan bawah tubuh dan anusnya ada di permukaan atas tubuh. Hewan ini memiliki kerangka dalam yang terdiri dari lempeng-lempeng kapur. Lempeng-lempeng kapur ini bersendi satu dengan yang lainnya dan terdapat di dalam kulit.
Hewan ini sehari-harinya mencari mangsanya yang berupa kerang. Caranya ternyata menggunakan sistem ambulakral. Tubuhnya menindih dari atas, kemudian tubuh kerang yang rapat dan keras itu dikelilingi oleh kaki ambulakral. Dengan sistem tersebut cangkang kerang yang keras itu bisa dibuka dan akhirnya ia bisa memakan dagingnya. Menurut Prawirohartono (2006: 102), kaki tabung sebelah kanan yang memegang objek tadi akan menyeret tubuh hewan ini ke arahnya. Begitulah cara hewan ini bergerak. Di samping itu hewan ini juga bergerak dalam air dengan menggunakan gerakan lengan-lengannya. Echinodermata mempunyai jenis kelamin terpisah, sehingga ada yang jantan dan betina.
Semua cumi-cumi memiliki tubuh yang berbentuk pipa, kepala yang berkembang sempurna, dan 10 tangan yang panjang yang bermangkuk penghisap. Tekstur tubuhnya lunak, berlendir, dengan kepala yang bertentakel dan tinta yang berada di dalam tubuhnya yang digunakan untuk melindungi diri hewan tersebut. Tangan-tangan atau tentakelnya berguna untuk menjerat mangsanya kemudian disobek menggunakan rahangnya yang kuat, mirip dengan paruh binatang. Menurut Anonim (2010: 4), cumi-cumi mempunyai tiga jantung dan berdarah biru. Dua dari jantung mereka berlokasi dekat dengan masing-masing insangnya dan karena hal itu mereka dapat memompa oksigen ke bagian tubuh yang beristirahat dengan mudah.























BAB V
KESIMPULAN

                  Berdasarkan hasil pengamatan dari praktikum ini, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.    Hewan vertebrata tersusun oleh banyak sel (multiseluler). Sel-selnya sering mengalami diferensiasi dan spesialisasi membentuk jaringan dan organ tubuh dan aktivitasnya semakin kompleks.
2.      Hewan Invertebrata adalah yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang,
3. Filum-filum yang terdapat pada kelas invertebrata ada banyak, seperti porifera, coelenterata, platyhelminthes, nemathelminthes, annelida, mollusca, arthropoda, dan echinodermata.
4.      Loligo indica merupakan hewan lunak yang berasal dari filum Mollusca.
5.      Oxyuris vermicularis atau sering disebut cacing kremi adalah salah satu hewan dari kelas nematoda filum Nemathelminthes.



2 comments:

  1. tolong disertakan dapusnya juga yaw,..:)

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

musiiikk!

Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info